Landslide Prone

In Ponorogo, 12 Region Landslide Prone

At least 12 locations spread over 21 districts in Ponorogo, East Java, declared landslide prone. Disaster-prone map is the official data issued by National Unity, Politics, and Public Protection (Bakesbangpollinmas) Ponorogo in 2009.

“We have to socialize this disaster-prone map to all the districts and even to the village and village level,” said Chief Bakesbangpollinmas, M Ichwan, Saturday (21/11).

Twelve such critical points of which are located in the subdistrict of Pulung, Sawoo, Badegan, Pudak, Sampung, and District Ngebel.

Ponorogo topography, near him, in general it was in the basin flanked by two large mountain, the Mount Wilis and Mount Lawu. Destruction of forests on the slopes due to logging and fires, disruption of natural balance, until the reduction in water catchment areas on slopes prone to causing floods and landslides.

Another factor that is not less powerful is because these areas are located in the hills. Thus, soil structure is at your side or on a particular slope. “Change of seasons also change the soil conditions, from dry to wet beginning to become less stable and can trigger landslides,” said Ichwan.

Ichwan further explain, discrepancies factors plant species may also lead to landslides. Although there are plants, each structure of the soil in hilly areas have different levels of suitability for some types of trees and plants.

In addition to landslides, Ichwan reminiscent of the community living around the river to be extra vigilant. Therefore, some streams are also identified potential for flooding.

Therefore, Bakesbangpollinmas has provided guidance to each disaster-prone areas. Not only that, a flood detector has also been installed along the watershed areas (DAS) Bengawan Solo, namely in Sekayu stream.

“Equipment is working since last year. It is expected that such flood events have occurred in Madiun and Ponorogo years ago did not happen again this time the rainy season or in the future, ” he said.

Sedikitnya 12 lokasi yang tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dinyatakan rawan longsor. Peta rawan bencana tersebut merupakan data resmi yang dikeluarkan Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpollinmas) Kabupaten Ponorogo tahun 2009.

“Kami sudah menyosialisasikan peta rawan bencana ini ke semua kecamatan bahkan hingga tingkat desa dan kelurahan,” kata Kepala Bakesbangpollinmas, M Ichwan, Sabtu (21/11).

Dua belas titik rawan tersebut di antaranya berada di wilayah Kecamatan Pulung, Sawoo, Badegan, Pudak, Sampung, dan Kecamatan Ngebel.

Topografi wilayah Ponorogo, kat dia, secara umum memang berada di daerah cekungan diapit dua gunung besar, yakni Gunung Wilis dan Gunung Lawu. Kerusakan hutan di lereng gunung akibat pembalakan dan kebakaran, terganggunya keseimbangan alam, hingga berkurangnya daerah resapan air di lereng gunung rawan menyebabkan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah karena daerah-daerah tersebut terletak di wilayah perbukitan. Sehingga, struktur tanahnya berada pada posisi miring atau pada kemiringan tertentu. “Pergantian musim juga mengubah kondisi tanah, dari semula kering menjadi basah sehingga menjadi kurang stabil dan bisa memicu longsor,” kata Ichwan.

Lebih lanjut Ichwan menjelaskan, faktor ketidakcocokan jenis tanaman juga menjadi penyebab longsor. Meski ada tanaman, setiap struktur tanah di daerah perbukitan memiliki tingkat kecocokan berbeda terhadap beberapa jenis pohon dan tanaman.

Selain longsor, Ichwan mengingatkan pada masyarakat yang tinggal di sekitar sungai untuk ekstra waspada. Sebab, beberapa aliran sungai ditengarai juga berpotensi menimbulkan banjir.

Karena itu, Bakesbangpollinmas telah memberikan penyuluhan kepada masing-masing daerah rawan bencana. Tidak itu saja, alat pendeteksi banjir juga telah dipasang di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, yakni di aliran sungai Sekayu.

“Alat sudah berfungsi sejak tahun lalu. Diharapkan kejadian banjir seperti pernah terjadi di Madiun dan Ponorogo tahun lalu tidak terulang lagi musim penghujan kali ini ataupun di masa mendatang,” katanya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • HelloTxt
  • LinkedIn
  • Ping.fm
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks

Postingan yang Berhubungan :

Tags: ,

6 Comments

(Required)
(Required, will not be published)
CommentLuv Enabled