(menjawab) Surat dari Takita

Hai Takita..

Sebelumnya terima kasih sudah memberikan izin untuk menjawab surat dari kamu. Jujur, saia salut dengan perjuanganmu dalam menyebarkan semangat bercerita ke seluruh Indonesia. Semoga, kegiatan ini banyak mendapat dukungan dari teman-teman yang lainnya. Amin!

Takita,

Sebenarnya saia tak pandai bercerita. Namun bolehlah saia menulis sedikit untuk kamu. Anggap aja bentuk lain dalam bercerita, tujuannya kan sama.

Saia masih ingat disaat masih kecil, sering mendapat cerita dari orang tua, saudara dan bahkan teman-teman main. Hampir setiap malam, kami selalu berkumpul untuk berbagi cerita. Mulai dari cerita yang baik, bertujuan positif, hingga cerita yang konyol agar tidak cepat tidur.

Cerita ini berasal dari pengalaman emak saia, saat baru hijrah di kota Surabaya dari kampungnya Ponorogo. Beliau menjabat sebagai mandor (sekarang disebut supervisor) di perusahaan tekstil, sekitar tahun 1960-an.

Saat itu, kota Surabaya masih sangat sepi, bersih dan indah. Kendaraan bermotor pun jarang berlalu-lalang. Trem (kereta listrik ditengah kota) dan bis tingkat adalah alat sarana transportasi yang paling idola waktu itu.

Berkat transportasi itulah, banyak anak muda yang ‘ngeceng’ di setiap halte. Upaya tebar pesona pun dilakukan demi mendapatkan pujaan hati. Tak jarang, keributan kecil terjadi apabila ada yang sama-sama menyukai pujaan hati.

Jalan Tunjungan yang terkenal dengan Toko Nam, lokasi yang tepat untuk menghabiskan waktu di malam minggu. Alih-alih berbelanja, sekaligus tempat pacaran yang ideal pada saat itu. Walau cuma sekedar ‘cuci mata’ tak dilarang, asal tidak mengganggu pasangan orang lain.

Surabaya sempat ramai dengan jaman ‘inflasi’, dimana uang 1000 rupiah (cetakan lama) setara nilainya dengan uang 1 rupiah (cetakan baru). Harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, orang pintar’ tarik subsidi, banyak susu tak terbeli (hingga Iwan Fals juga membuat lagu tentang inflasi ini).

Saat itu, benar-benar masa yang sulit bagi emak dan bapak yang kebetulan baru menikah. Demi memenuhi kehidupan keluarga kami, orang tua kami bekerja keras. Pagi sampai sore bekerja di pabrik, malamnya berdagang. Itu semua demi membayar sekolah kami, itulah sebabnya kami tidak pernah meminta uang saku kepada emak dan bapak.

Takita,

Kami ini keluarga yang sangat sederhana, namun wejangan emak kepada kami para anak-anaknya, selalu kami ingat. Beliau mengajarkan kesederhanaan dalam menjalani hidup ini. Tak jarang, beliau menasehati kami untuk selalu menghormati orang lain jika ingin dihormati.

“Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai nantinya. Jangan sampai memalukan martabat keluarga!” kata-kata dari emak yang selalu saia ingat sampai sekarang ini.

Takita,

Saat ini, saia merasakan betul dari kata-kata itu. Saia selalu mengucap syukur kepada Allah SWT yang sudah memberikan anugrah kepada emak saia. Wejangan itu saia terapkan dalam kehidupan saia sehari-hari.

Saat ini, saia berharap, semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan kepada beliau. Apalagi, saat ini saia harus hijrah ke Ibukota. Dimana saia jarang bertemu lagi kecuali saat libur panjang. Bagi saia, emak dan bapak adalah pahlawan dalam kehidupanku.

Takita,

Seperti yang sudah saia jelaskan diatas, saia tak pandai bercerita. Namun, saia mencoba menjawab surat dari kamu dengan menuliskan di blog ini. Berharap, tulisan ini bisa dianggap cerita bagi teman-teman Takita.

Sampai jumpa dan semoga bertemu lagi di lain kesempatan. Salam buat teman-teman Takita yang bersemangat dalam membagikan cerita untuk Indonesia. Sukses ya…

Wassalam
@gajahpesing

Incoming search terms:


One Response so far.

  1. Surat dari Takita: Mimpi-mimpi Takita - Blog Indonesia Bercerita says:

    [...] Menjawab Surata Takita dari kak Gajah Pesing (Jakarta) [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site